Penetapan Cagar Budaya ; Menjaga Warisan Pendidikan & Sejarah Beltim

Date:

KmpMedia.News | ArtaSariMediaGroup ~ Dalam upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan lokal, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) baru saja menggelar sidang penetapan cagar budaya yang mengangkat salah satu peninggalan penting dalam sejarah pendidikan di daerah ini, yaitu Sekolah Ambacht Cursus (AC).

Sidang yang berlangsung beberapa waktu lalu tepatnya pada Jumat, 22 November 2025 lalu, ini menghasilkan rekomendasi penetapan Sekolah AC sebagai Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Belitung Timur.

Sekolah Ambacht Cursus bukan hanya sebuah lembaga pendidikan biasa, tetapi merupakan bagian integral dari sejarah panjang perkembangan pendidikan di Pulau Belitung, terutama dalam kaitannya dengan industri pertimahan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah ini.

Pada masa kolonial Belanda, Sekolah AC didirikan sebagai institusi yang bertujuan untuk melatih tenaga kerja terampil dalam industri timah, sebuah sektor yang sangat vital bagi perekonomian Belitung pada waktu itu.

Namun, apa yang dimaksud dengan cagar budaya? Cagar budaya merujuk pada benda, bangunan, kawasan, atau situs yang memiliki nilai sejarah, kebudayaan, ilmiah, dan/atau estetika yang tinggi, yang perlu dilindungi dan dilestarikan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

Penetapan cagar budaya merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa warisan sejarah tersebut tidak hanya dikenang, tetapi juga terjaga kelestariannya melalui perlindungan hukum.

Proses Penetapan Cagar Budaya

Penetapan sebuah objek sebagai cagar budaya bukanlah proses yang mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk nilai sejarah, budaya, dan relevansinya dengan masyarakat sekitar.

Dalam kasus Sekolah Ambacht Cursus, sejarah panjang lembaga ini sebagai tempat pendidikan yang berperan dalam membentuk sumber daya manusia terlatih dalam industri timah, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari sejarah ekonomi dan pendidikan Belitung Timur.

See also  Israel & Somaliland ; Langkah Strategis Geopolitik & Keamanan Laut Merah

“Proses yang kami lalui cukup panjang. Tidak hanya melibatkan koordinasi dengan tim ahli cagar budaya lokal, tetapi kami juga telah berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Jambi untuk memastikan bahwa penetapan ini sesuai dengan standar yang berlaku,” ujar Hendri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur, dalam keterangannya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berharap, dengan adanya rekomendasi penetapan ini, proses selanjutnya yakni penandatanganan oleh Kepala Daerah dan pengesahan melalui SK Bupati Beltim, akan menjadi tonggak penting dalam pemajuan kebudayaan dan pelestarian sejarah Belitung Timur.

Ambacht Cursus: Dari Sekolah Kolonial Hingga SMK Stannia Manggar

Pendirian Sekolah Ambacht Cursus pada tahun 1928 merupakan bagian dari upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menyediakan pendidikan kejuruan yang dapat mendukung industri timah yang berkembang pesat di Belitung. Nama dan bentuk pendidikan yang diselenggarakan pun berkembang seiring waktu.

Setelah Ambacht Cursus, nama sekolah ini berganti menjadi Ambacht School (AS) pada 1950-an, kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Pertukangan (SP) Manggar sekitar tahun yang sama. Perubahan ini mencerminkan dinamika dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia pasca kemerdekaan, serta perubahan kebutuhan tenaga kerja di industri timah.

Seiring berjalannya waktu, sekolah ini terus bertransformasi menjadi Sekolah Tehnik (ST) pada tahun 1970-an, kemudian Sekolah Tehnik Mesin (STM) antara tahun 1984 hingga 1997, dan akhirnya berubah menjadi SMK Stannia Manggar pada tahun 1997 hingga kini.

Keberadaan SMK Stannia Manggar saat ini tetap mengusung semangat pendidikan kejuruan yang bermula dari Ambacht Cursus. Hal ini diungkapkan oleh Giyantoro, Kepala SMK Stannia Manggar, yang mendukung penuh proses penetapan Sekolah Ambacht Cursus sebagai cagar budaya.

“Dengan penetapan ini, kami berharap bisa melestarikan bangunan dan nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kami juga berharap adanya revitalisasi, atau pengembalian sekolah ini ke bentuk aslinya, sebagai wujud kontribusi nyata kami dalam pelestarian sejarah pendidikan di Beltim,” kata Giyantoro.

See also  Api yang Tak Padam ; Pelajaran Sejarah dari Pergulatan Panjang Rusia & Polandia

Revitalisasi dan Pelestarian Sebagai Langkah Strategis

Tidak hanya sebagai upaya pelestarian sejarah, penetapan cagar budaya juga membuka peluang bagi revitalisasi bangunan dan penguatan identitas lokal. Dalam konteks Sekolah Ambacht Cursus, revitalisasi ini dapat memberikan kesempatan untuk kembali mengenalkan sejarah pendidikan dan peranannya dalam perkembangan daerah, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik wisata pendidikan yang bisa menarik minat masyarakat dan wisatawan.

Hendri menambahkan, “Dengan adanya rekomendasi ini, kami berharap dapat terus mendorong penguatan data, kajian, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkaya daftar cagar budaya di Kabupaten Belitung Timur ke depannya.”

Proses penetapan cagar budaya seperti ini menunjukkan bahwa kebudayaan daerah tidak hanya dihargai sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun masa depan.

Melalui penguatan identitas budaya dan sejarah yang terjaga dengan baik, masyarakat diharapkan dapat semakin mengenal dan bangga akan warisan leluhur mereka, serta berperan aktif dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan daerah.

Menjaga Warisan Sejarah untuk Generasi Mendatang

Keberhasilan penetapan Sekolah Ambacht Cursus sebagai cagar budaya adalah langkah penting dalam upaya menjaga warisan sejarah dan budaya Belitung Timur. Namun, ini hanya awal dari sebuah proses panjang yang membutuhkan perhatian dan kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku industri dan pariwisata.

Untuk itu, keberlanjutan dari pelestarian cagar budaya, termasuk melalui pendidikan, revitalisasi bangunan, dan pengembangan wisata sejarah, akan menjadi kunci untuk menjamin bahwa sejarah Belitung Timur tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang. | KmpMedia.News | */Redaksi | *** |

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Batagak Gala Datuak Rajo Basa ; Suku Panyalai Kukuhkan H. Nurman HMN dalam Sakralnya Adat Minangkabau

KmpMedia.News | ArtaSariMediaGroup ~ Langit budaya Minangkabau kembali dipenuhi...

Suku Togutil, Penjaga Hutan yang Mengajarkan Arti Kehidupan

KmpMedia.News | ArtaSariMediaGroup ~ Di tengah derasnya arus modernisasi...

Pakaian Adat Minangkabau ; Warisan Budaya Sarat Makna & Identitas

KmpMedia.News | ArtaSariMediaGroup ~ Kekayaan budaya Indonesia kembali menunjukkan...

Wilayah Rawan Predator, Bocah 10 Tahun Diterkam Buaya di Sungai Inggoi

KmpMedia.News | ArtaSariMediaGroup ~ Peristiwa tragis yang mengguncang nurani...